Fakultas Teknologi Kesehatan Al Insyirah

Ketua Prodi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA Jadi Pemateri Pelatihan Proteksi Radiasi Tingkat II

Pekanbaru – Institut Kesehatan dan Teknologi (IKTA) Al Insyirah kembali menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang kesehatan dan elektromedis. Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA, Nani Lasiyah, A.Md.TEM., S.Si., M.Si. , menjadi salah satu pemateri dalam Pelatihan Proteksi Radiasi Tingkat II yang diselenggarakan oleh PT Visi Yosindo.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026 , bertempat di Evo Hotel Pekanbaru , dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Aceh, Jakarta, Bali, Kalimantan, Pekanbaru, hingga Sumatera Barat.

Ketua Prodi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA Jadi Pemateri Pelatihan Proteksi Radiasi Tingkat II
Ketua Prodi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA Jadi Pemateri Pelatihan Proteksi Radiasi Tingkat II

Dalam pelatihan tersebut, Nani Lasiyah menyampaikan materi bertajuk “Alat Ukur Radiasi” . Materi ini membahas pentingnya pengukuran radiasi dalam mendukung keselamatan pasien, tenaga kesehatan, serta lingkungan kerja di fasilitas radiologi. Menurutnya, pengukuran radiasi merupakan salah satu aspek penting dalam penerapan proteksi radiasi untuk memastikan dosis radiasi yang diterima tetap berada dalam batas aman.

“Radiasi yang digunakan pada radiologi, radioterapi, maupun kedokteran nuklir harus selalu dipantau agar tidak menimbulkan risiko bagi pasien maupun petugas. Oleh karena itu, pemahaman mengenai alat ukur radiasi menjadi kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh tenaga elektromedis dan petugas proteksi radiasi,” jelas Nani.

Pada sesi pemaparan, peserta diberikan pemahaman mengenai prinsip dasar pengukuran radiasi, yaitu proses interaksi radiasi dengan materi yang menghasilkan ionisasi dan kemudian dikonversi menjadi sinyal listrik yang dapat diukur oleh detektor. Berbagai jenis detektor radiasi juga diperkenalkan, mulai dari detektor isian gas seperti Geiger Muller Counter , detektor sintilasi, hingga detektor semikonduktor yang memiliki tingkat sensitivitas dan resolusi tinggi.

Selain itu, materi juga membahas berbagai alat yang digunakan dalam monitoring keselamatan radiasi, seperti survey meter , dosimeter , sistem pencacah radiasi, serta TLD Reader yang berfungsi membaca dosis radiasi yang tersimpan pada Thermoluminescent Dosimeter (TLD) .

Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Diskusi yang berlangsung mencakup berbagai tantangan implementasi proteksi radiasi di fasilitas kesehatan masing-masing, khususnya terkait penggunaan alat ukur radiasi dan penerapan prosedur keselamatan kerja.

Melalui kegiatan ini, diharapkan peserta dapat meningkatkan kompetensi dalam memahami penggunaan alat ukur radiasi sekaligus memperkuat budaya keselamatan radiasi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Keterlibatan Ketua Program Studi Teknologi Rekayasa Elektromedis IKTA sebagai pemateri juga menjadi bukti nyata kontribusi institusi dalam mendukung pengembangan tenaga profesional di bidang elektromedis dan proteksi radiasi. (Red/Nani)

Bagikan :

Scroll to Top